Mengenal Kristen Ortodoks pakai Kerudung Salat dan Berpuasa – Dua kotak bening bertuliskan ‘Kerudung’ dan ‘Kain’ yang udah terisi rapi, ada di atas meja dekat pintu masuk Gereja Ortodoks Rusia St Thomas, Jakarta Selatan. Di bawahnya, terletak kotak kosong untuk menyimpan kain dan kerudung bekas memakai Kerudung-kerudung dan kain itu diperuntukkan bagi umat Kristen Ortodoks wanita yang dapat beribadah.
Mengenal Kristen Ortodoks pakai Kerudung Salat dan Berpuasa
Seluruh umat wanita yang hadir antara Liturgi Ilahi, ibadah hari Minggu (3/7/2022), kelihatan memakai kerudung. dikala ibadah di mulai mereka berada di barisan kiri.
Sementara laki laki lakukan ibadah di baris kanan. Di beberapa bagian doa, mereka seluruh mengangkat tangan ke atas dan terhitung kerjakan gerakan berlutut seperti sujud.
Sekilas, pemandangan ini serupa bersama dengan langkah umat Islam lakukan ibadah. namun ini bukan soal ‘meniru’, melainkan tradisi gereja pada mulanya yang tetap dipertahankan umat Ortodoks.
“Dari zaman dahulu itu, agama semitik, pada Kristen Ortodoks, Yahudi, dan Islam, mereka punyai kemiripan-kemiripan di dalam ibadah. jadi yang mengfungsikan kerudung, yang menggunakan cadar itu pun sesungguhnya bukan Islam saja,” kata Kepala Paroki Gereja Ortodoks Rusia St Thomas, Romo Boris Setiawan kepada kumparan, Minggu (3/7).
Tiga agama berikut merupakan agama yang ajarannya bersumber berasal dari Nabi Ibrahim. Ajaran Yahudi dan Kristen mengacu kepada Ishaq, putra Ibrahim bersama dengan Sarah yang menurunkan Ya’kub.
Sementara Islam lebih mengacu kepada Ismail, putra dari Ibrahim dan Hajar, yang turunkan bangsa Arab. sebab tetap satu rumpun, tak heran rutinitas tiga agama itu memiliki kesamaan.
Selain soal kerudung, Romo menuturkan mengangkat tangan dan berlutut merupakan cara berdoa yang dicontohkan Yesus Kristus. Begitu pun bersama dengan gerakan sujud.
Menurut pantauan kumparan, umat Ortodoks di Gereja St Thomas Mengerjakan liturgi sepanjang kira-kira 2,5 jam dengan mayoritas doa dijalankan berdiri. Tak banyak kursi yang disajikan sekedar memadai untuk segelintir anggota saja. perihal ini bikin gereja nampak seperti lantai masjid dengan hamparan karpet.
Namun penampakan sedikit tidak sama tampak di Gereja Ortodoks Epifani Suci, Kalimalang, Jakarta Timur. walaupun ibadah termasuk biasanya ditunaikan berdiri, tetapi ada kursi panjang seperti gereja mayoritas.
Romo Prochoros Rinus Manukallo dari Gereja Ortodoks Konstantinopel Epifani Suci, Jakarta Timur menjelaskan rutinitas gereja pada mulanya memang tak gunakan kursi. seiring perkembangan zaman, pemanfaatan kursi mulai diperbolehkan.
“Biasanya begini, di sebagian gereja, kursi itu menempel di dinding, beberapa untuk yang telah tua atau anak-anak. namun aslinya memanglah tidak. Di mana pun (tidak gunakan kursi),” kata Romo Prochoros disaat ditemui pada Minggu (3/7).
Tak cuman soal berkerudung, umat Ortodoks terhitung punya ibadah salat (sembahyang) dan puasa. Sebagai agama yang lebih pernah terlihat dan pakai ajaran pada mulanya Kristen Ortodoks sudah menjalankan praktek salat (sembahyang) lebih awal.
Dalam Alkitab disebutkan bahwa salat menurut Nabi Daniel dikerjakan sehari tiga kali. tetapi salat menurut Nabi Daud ditunaikan sebanyak 7 kali.
Umat Ortodoks mempunyai banyak hari untuk berpuasa. Seorang Reader atau Pembaca Doa di Gereja St Thomas, Gregory, menuturkan bahwa jumlah hari puasa kurang lebih datang 6 bulan didalam setahun. Puasa ini pun dilakukan bersama beraneka pantangan.
“Jadi hadir hal-hal yang kita berpantang, terutama antara saat kami berpuasa akbar. seperti daging dan turunannya dan itu benar-benar datang panduan-panduan di di dalam kalender Ortodoks,” mengerti Gregory.
Ia penambahan puasa itu mesti dikerjakan sesuai bersama dengan ajaran terdahulu. tak sekedar pantangan daging, ada hari-hari tertentu yang sebatas memperbolehkan makan sayur dan buah saja. ada pula hari-hari pribadi yang dilarang memakai minyak.
Puasa ini ditunaikan berasal dari jam enam sore hingga jam 3 sore keesokan harinya. beberapa perumpamaan hari puasa misalnya 40 hari jelang Natal, puasa kira-kira 3 minggu untuk mengenang Bunda Maria, dan puasa Rasul Peter dan Paul selama 3 minggu. Umat Ortodoks juga punya puasa rutin seperti Senin-Kamis didalam Islam, yaitu tiap-tiap hari Rabu-Jumat.
Romo Boris Setiawan menuturkan puasa ini ditujukan bukan sekedar mencegah lapar saja, melainkan termasuk menghindar hawa nafsu.
“Di Ortodoks itu tujuan puasa itu adalah untuk kita mendekatkan diri atau menyatu dengan Tuhan kami Yesus Kristus, yakni capai yang namanya Theosis. Yang dimaksud bersama Theosis itu, menyatu dengan keilahian berasal dari Yesus Kristus,” jelasnya.