Mengenal Kitab Tuhfatul Athfal fungsi dan Bacaan Syairnya

Mengenal Kitab Tuhfatul Athfal fungsi dan Bacaan Syairnya – Tuhfatul Athfal adalah kitab nadzom atau syair yang digunakan untuk mempelajari pengetahuan tajwid. Kitab ini ditulis oleh Syaikh Sulaiman bin Hasan bin Muhammad Al-Jamzuri, keliru satu ulama dari Mesir pada abad ke-12 Hijriah.

Mengenal Kitab Tuhfatul Athfal fungsi dan Bacaan Syairnya

Dalam makna fikih, tajwid merupakan pengetahuan yang mempelajari bagaimana cara melafalkan huruf-huruf yang terletak didalam Alquran bersama benar. Hukum mempelajari ilmu tajwid adalah fardu kifayah atau kewajiban bersama-sama bagi mukalaf.

Karenanya, penting bagi umat Muslim untuk memahami pengetahuan tajwid sehingga bisa membaca Alquran bersama dengan pelafalan yang benar. keliru satu kitab yang dijadikan rujukan untuk mempelajari tajwid adalah Tuhfatul Athfal atau yang dikenal termasuk sebagai kitab Matan Al-Jamzuriyah.

Pengertian Tuhfatul Athfal

Secara bhs Tuhfatul Athfal bermakna “Senandung Anak-Anak”. Kitab ini berisi metode pembelajaran ilmu tajwid dengan syair yang berguna untuk memudahkan para pelajar bhs Arab dalam mempelajari bagaimana langkah membunyikan huruf-huruf Alquran.

Tuhfatul Athfal banyak dipakai kalangan Muslim di beraneka negara untuk mempelajari kaidah-kaidah basic tentang ilmu tajwid. Kitab ini memiliki 61 bait syair yang dirangkai bersama kata-kata indah.

Ada banyak hukum bacaan tajwid yang membutuhkan dipelajari umat Muslim. semua hukum bacaan ini terdapat dalam Tuhfatul Athfal dengan wujud bait-bait syair.

Agar lebih jelas mengerti seperti apa syair Tuhfatul Athfal, kamu wajib mengetahui penggunaannya di dalam tidak benar satu hukum bacaan tajwid, yaitu hukum bacaan alif lam. dalam pengetahuan tajwid, hukum bacaan alif lam terbagi menjadi dua macam, yaitu Alif Lam Qomariyah dan Alim Lam Syamsiyah.

Dikutip berasal dari Catatan dan Penjelasan gampang pada Kitab bahasa Arab Durusul Lughoh oleh Syahrijal Ahmad Syuhada (2021: 17-18), inilah penjelasan ilmu tajwid perihal alif lam yang merujuk antara kitab Tuhfatul Athfal.

1. misal Syair Tuhfatul Athfal mengenai Huruf Qomariyah

Huruf Alif Lam Qomariyah adalah huruf yang dikala bersambung bersama lam, maka huruf lam selanjutnya perlu dibaca memahami Huruf Qomariyah terdiri dari 14 huruf yang dituangkan dalam syair Tuhfatul Athfal berikut:

(ابغ حجك وخف عقيمه) (۱)

Artinya: “Carilah (yang mabrur) antara hajimu dan takutlah dari pembatalnya.”

Dalam syair berikut terdapat 14 huruf Qomariyah, yakni alif (ا ), ba (ب), jim (ج), ha (ح), kha (خ), ‘ain (ع), ghain (غ), fa (ف), qaf (ق), kaf (ك), mim (م), wawu (و), ha (ه), dan ya (ي).

2. umpama Syair Tuhfatul Athfal tentang Huruf Syamsiyah

Huruf Alif Lam Syamsiyah adalah huruf yang kala bersambung bersama dengan lam, maka huruf lam tersebut dilebur dengan huruf sesudah lam dan ditandai dengan ada tasydîd antara huruf tersebut ada 14 huruf Syamsiyah yang dituangkan didalam syair Tuhfatul Athfal berikut:

طب ثم صل رحما تفز ضف ذا نعم دع سوء ظن زر شريفا للكرم (۲)

Artinya: “Jadilah orang baik sesudah itu sambunglah tali silaturahmi maka engkau akan menang, bergaulah dengan orang baik, jauhilah prasangka buruk kunjungilah orang yang mulia sebab kemuliaannya.”

Dalam syair berikut terdapat 14 huruf Syamsiyah, yakni tha (ط), tsa (ث), shad (ص), ra (ر), ta (ت), dha (ض), dzal (ذ), nun (ن), dal (د), zai (ز), sin (س), zha (ظ), syin (ش), dan lam (ل).

Bacaan Syair Tuhfatul Athfal

Berikut ini salah satu teks syair di dalam kitab Tuhfatul Athfal beserta postingan Arab, latin, dan artinya.

يَقُولُ رَاجِي رَحْمَةِ الْغَفُورِ ۞ دَوْمًا سُلَيْمَانُ هُوَ الْجَمْزُورِي

Yaqulu raji rahmatil ghafuri – dauman sulaimanu huwal jamzuri.

“Berkata orang yang selalu mengharap rahmat sang Maha Pengampun, yaitu Sulaiman Al Jamzury.”

الْـحَمْـدُ للهِ مُصَلِّيًا عَلَى ۞ مُحَمَّدٍ وَآلهِ وَمَنْ تَلَا

Alhamdulilahi mushaliyan ‘ala – muhammadin wa alihi wa mantala.

“Segala puji bagi Allah, sholawat atas Muhammad beserta keluarga dan orang yang mengikutinya.”

وَبَعْدُ هَذَا النَّظْمُ لِلْمُرِيدِ ۞ فِي النُّونِ وَالتَّنْوِينِ وَالْـمُـدُودِ

Wa ba’du hazan nadzmu lil muridi – fin nuni watanwini wal muridi.

“Dan sesudah itu, ini adalah syair untuk orang yang harapkan problem nun, tanwin, dan mad-mad.”

سَمَّيْتُهُ بِتُحْفَةِ الْأَطْفَالِ ۞ عَنْ شَيْخِنَا الْـمِيهِىِّ ذِي الْكَمَالِ
Samaituhu bituhfatil athfali – ‘an syaikhinal mihiyizil kamali.
“Aku beri nama Tuhfatul Athfal, berasal dari guru kami Al-Mihiy yang punya kesempurnaan.”
أَرْجُو بِهِ أَنْ يَنفَعَ الطُّلَّابَا ۞ وَالْأَجْرَ وَالْقَبُولَ وَالثَّوَابَا
Arju bihi an yanfa’at thulabi – wal ajru wal qabula watsawabi.
“Aku bertopang kitab ini berikan kegunaan para pencari ilmu balasan, di terima dan pahala.”
لِلنُّونِ إِنْ تَسْكُنْ وَلِلتَّنْوِينِ ۞ أَرْبَعُ أَحْكَامٍ فَخُذْ تَبْيِيْنِي
Linuni intaskun wa litanwini – arba’u ahkamin fakhuz tabyini.

“Nun kalau mati dan tanwin resmikan empat hukum, maka perhatikanlah keteranganku.”
فَالأَوَّلُ الْإِظْهَارُ قَبْلَ أَحْرُفِ ۞ لِلْحَلْقِ سِتٍّ رُتِّبَتْ فَلْتَعْرِفِ
Fal awalu idzharu qabla ahrufi – lil haqi sittin rutabit fal ta’rifi.
“Pertama adalah idzhar sebelum akan enam huruf tenggorokan yang tersusun, maka ketahuilah.”
هَمْزٌ فَهَاءٌ ثُمَّ عَيْنٌ حَاءُ ۞ مُهْمَلَتَانِ ثُمَّ غَيْنٌ خَاءُ
Hamzun faha un tsuma ‘ainun ha’u – muhmalatani tsuma ghainun kha’u.
“Hamzah, Ha’, ‘Ain, Ha, Ghain, dan Kha.”
وَالثَّانِ إِدْغَامٌ بِسِتَّةٍ أَتَتْ ۞ فِي يَرْمُلُونَ عِنْدَهُمْ قَدْ ثَبَتَتْ
Watsani idghamum bisittatin atat – fi yarmiluna ‘indahum qad tsabatat.
“Kedua adalah idgham yang membuka 6 huruf yang terkumpul didalam kata: ﻳﺮﻣﻠﻮﻥ .”
لَكِنَّهَا قِسْمَانِ قِسْمٌ يُدْغَمَا ۞ فِيهِ بِغُنَّةٍ بِـ:يَنْمُو عُلِمَا

Lakinnaha qismani qismum yudghama – fihi bighunnatin biyanmu ‘ulima.
“Namun idgham datang dua jatah yang pertama bersama ghunnah, yang diketahui di dalam kata ينمو .”
إِلَّا إِذَا كَانَا بِكِلْمَةٍ فَلاَ ۞ تُدْغِمْ كـ:دُنْيَا ثُمَّ صِنْوَانٍ تَلَا
Illa iza kana bikilmatin fala – tudghim kadunya tsuma shinwanin tala.
“Kecuali sekiranya di dalam satu kalimat maka jangan diidghamkan, seperti “ﺩﻧـﻴﺎ” dan “ﺻـﻨﻮﺍﻥ” .”
وَالثَّانِ إِدْغَامٌ بِغَيْرِ غُنَّهْ ۞ فِي اللَّامِ وَالرَّا ثُمَّ كَرِّرَنَّهْ
Watsani idghamun bighairi ghunah – fil lami wa ra tsuma kari ranah.
“Yang kedua adalah idgham bighairi ghunnah yakni untuk huruf lam dan ra, selanjutnya getarkanlah.”
وَالثَّالِثُ الْإِقْلَابُ عِنْدَ الْبَاءِ ۞ مِيمًا بِغُنَّةٍ مَعَ الْإِخْفَاءِ
Watsalitsul iqlabu ‘indal ba’i – mi mam bighunatin ma’al ikhfa’i.

“Ketiga adalah iqlab yakni saat bersua ba, maka dibaca mim yang didengungkan dan juga disamarkan.”

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *